Friday, September 21, 2018

MENGENANG SEBASTIAN DEISLER SANG BINTANG YANG LAYU SEBELUM BERKEMBANG


Bayangkan kau sebagai seorang Sebastian Toni Deisler.

Saat berusia 17 tahun, kira-kira pada 1997, kau termasuk ke dalam satu di antara 23 pesepakbola muda Jerman yang berjuang di Piala Dunia U-17 Mesir. Tak ada yang mengenal nama Deisler, nama kau sendiri, saat itu. Tapi penampilan apik yang kau tunjukkan sepanjang gelaran tersebut membuat orang-orang mulai menujukan pandangan. Kau punya kemampuan dribel mumpuni, kecepatan tingkat tinggi, visi bermain terdepan, dan kualitas operan nomor wahid. Selain itu, yang paling penting, kau juga berperan membawa Jerman melaju jauh dengan mencapai babak semifinal –kendati akhirnya kalah dari Brasil— serta juga berhasil masuk sebagai salah satu kandidat pemain terbaik Piala Dunia U-17 di tahun itu –bersama Ronaldinho, Santiago Santamaria, dan beberapa pemain lain.

Kau kemudian mendapat julukan ‘Basti Fantasti’. Tentu saja karena kemampuan dan capaian yang baru saja kau raih di tahun tersebut. Seiring dengan itu, pada sepasang kaki yang kau miliki, orang-orang Jerman mulai menaruh harapan besar yang teramat besar.

Ya, harapan yang teramat besar, sebab masa-masa itu adalah masa di mana sepakbola Jerman sedang terpuruk. Tak seperti sekarang, saat itu jarang sekali muncul pemain muda dengan kemampuan yang tak biasa. Pada Piala Dunia 1998 yang hasilnya tak begitu bagus itu saja, misalnya, Jerman didominasi oleh para pemain berusia lanjut macam Jurgen Klinsmann, Kohler, Oliver Bierhoff, dan bahkan Lothar Matthaus.

Maka wajar bila saat kau mencuat di kejuaraan dunia U-17 1997 lalu, dan ditambah kau juga langsung mendapat kesempatan debut di Bundesliga pada tahun yang sama saat Piala Dunia 1998 bergulir –saat itu kau masih berusia 18 tahun kurang, orang-orang langsung menganggap kau sebagai juru selamat, sebagai Messiah. Dan kau sebetulnya memang punya potensi untuk menjadi demikian.

Tekanan sebagai bakat besar dan cedera yang menghantui

Itu adalah pengujung musim panas 1998 saat kau melakoni debut profesional dalam balutan seragam Borussia Monchengladbach di Bundesliga I. Namun, kau tak langsung mencuri perhatian kala itu. Kau baru benar-benar mencuri perhatian pada beberapa bulan setelahnya, yaitu saat melawan 1860 Munchen.

Pada laga itu, kau yang ditempatkan sebagai pemain sayap kanan tampil begitu apik. Berulang kali akselerasi yang kau lancarkan membuat sisi kiri pertahanan tim lawan kelabakan. Berulang kali pula umpan-umpan crossing yang kau lepaskan berujung peluang bagi pemain lain di lini depan. Puncak dari permainan apik tersebut adalah saat kau mencetak gol perdana. Dalam situasi serangan balik, kau berlari secepat kilat dari sisi kanan daerah lapangan sendiri, mengecoh beberapa pemain, dan kemudian melepaskan sepakan keras kaki kiri dari luar kotak penalti yang tak bisa dijangkau kiper lawan.
Saat pertandingan usai, yang mana Gladbach berhasil memenangi laga dengan skor 2-0, kau mendapat banyak sekali pujian. Sangat banyak. Bahkan kali ini dari para pesohor sepakbola Jerman. Franz Beckenbauer yang legendaris itu menyebut kau sebagai pemain dengan kemampuan teknik dan kondisi fisik mengesankan. Sementara Rudi Voller memprediksi bahwa kelak kau akan menjadi pemain berpengaruh di tim nasional Jerman dalam waktu yang tak sebentar.

Sayangnya, bagi performa Gladbach secara keseluruhan, berbagai kemampuan yang kau miliki tak berpengaruh banyak. Di Bundesliga, Gladbach yang musim itu memang tampil buruk hanya mampu mendapat 21 poin dari hasil 4 kemenangan, 9 imbang, dan 21 kekalahan. Itu kemudian membuat mereka terpaksa turun kasta ke Bundesliga II pada musim berikutnya.

Lalu apa langkah yang kau ambil setelah itu? Pindah ke klub medioker yang secara mengejutkan lolos ke Liga Champions 1999-00: Hertha Berlin. Oh, sebentar, sebetulnya kau punya kesempatan untuk pindah ke klub lain. Beberapa tawaran bahkan berasal dari luar Jerman. Namun, barangkali karena kau masih muda (19 tahun saat itu), kau memilih untuk berjalan perlahan dengan pindah ke klub yang tak terlalu besar dan tetap berasal dari Jerman, seperti Hertha.

Masa-masa awal kau di klub ibukota Jerman ini berlangsung menyenangkan. Pada tiga pertandingan pertama Bundesliga, kau terlibat dalam empat gol yang dicetak Hertha. Sementara di Liga Champions, kau bersama dengan Ali Daei dan Darius Wosz punya peran penting membawa Hertha lolos dari babak grup Liga Champions dan sempat mengalahkan AC Milan dengan skor 1-0.

Secara teknis, skill individu yang kau punya juga semakin meningkat di Hertha. Entah itu kecepatan, kemampuan melewati lawan, sepakan jarak jauh, crossing, hingga akurasi set piece. Lalu, sekali lagi, pujian-pujian pun datang menghampiri kau di musim itu. Kau semakin menjadi sorotan. Kau semakin menjadi bintang.

Akan tetapi, musim menyenangkan itu menyisakan luka yang cukup menakutkan. Kau sempat mengalami cedera lutut kanan parah pada pertengahan musim. Cedera tersebut adalah kambuhan dari cedera yang dulu kau dapat saat masih menjadi pemain Gladbach. Kau pun harus menjalani operasi.



Banyak pengamat yang kemudian bertanya-tanya, “Setelah cedera parah, mungkinkah dengan usia yang masih semuda itu kau bisa kembali ke performa terbaik?”

Jawabannya adalah ya. Kau sembuh dari cedera dan bisa dibilang masih mampu mencapai performa seperti sebelumnya. Kau bahkan berhasil mempersembahkan gelar juara DFB Pokal bagi Hertha di akhir musim serta masuk ke dalam skuat Jerman untuk Euro 2000 di Belanda-Belgia. Saat itu kau yang masih berusia 20 tahun menjadi pemain termuda di skuat tua Jerman. Sayangnya, Jerman luluh lantak di sana.

Selama sekitar setahun setelah Euro 2000, kau masih terus bermain untuk Hertha. Beberapa kali sempat mengalami cedera, namun tak begitu parah. Sampai kemudian tibalah kau pada Oktober 2001. Saat itu, kau kembali mengalami masalah pada lutut kanan dan kali ini sangat parah. Kau pun dinyatakan tak bisa kembali bermain di sisa musim tersebut.

Sialnya, cedera itu berbarengan dengan bocornya berita seputar kepindahan kau ke Bayern Munchen pada awal musim 2002-03 yang menyulut amarah publik. Saat itu kau dianggap melakukan perjanjian transfer secara diam-diam. Namun, kau mengklaim bahwa hal itu sengaja dilakukan karena diminta oleh manajer Hertha Berlin, Dieter Hoeness. Sayangnya Hoeness langsung melakukan bantahan. Kau pun merasa muak, merasa tak dilindungi sebagai pemain. Kau merasa tersiksa.

“Itulah yang mulai merusak pandanganku tentang sepakbola. Aku tahu hari ini bahwa itulah titik di mana aku seharusnya berhenti,” kau berkata dalam sebuah wawancara dengan Die Zeit. “Aku seperti badut yang sedih di Berlin.”

Pindah ke Bayern sejatinya adalah usaha kau untuk memperbaiki segala-galanya. Termasuk untuk kembali bisa menikmati sepakbola yang pada musim terakhir di Hertha tak bisa kau dapat. Penyebabnya adalah masalah cedera, juga perlakuan manajemen klub yang tak memberi perlindungan. Namun di musim pertama bersama Bayern, itu masih belum bisa kau dapatkan kembali. Jelang musim bergulir, cedera lutut kanan yang baru saja sembuh lagi-lagi menyerang. Bahkan kali ini juga merembet ke otot di bagian paha. Kau sebetulnya ingin membuktikan diri, tetapi kau nyaris tak bisa bermain di musim itu. Kau merasa tertekan.

Pada 2003-04, kau terlihat benar-benar telah sembuh dari cedera. Performa yang kau tunjukkan di lapangan juga kembali membaik sehingga Bayern cukup sering memainkan kau di musim itu. Bersama Michael Ballack, kau adalah pemain paling berbahaya di Bayern. Kau pengumpan lambung andal, dan itu adalah makanan kesukaan Ballack.

Salah satu laga di mana kau tampil begitu baik adalah saat Bayern menang atas Borussia Dortmund dengan skor 4-1 pada akhir 2003. Saat itu kau mencatatkan dua asis. Namun sepuluh hari setelahnya, kau tiba-tiba berada di rumah sakit karena mengalami depresi berat. Banyak yang menyebut penyebab depresi itu adalah kekhawatiran berlebihan soal cedera dan anggapan berlebihan publik bahwa kau adalah penyelamat sepakbola Jerman.

“Deisler datang ke klub kami sebagai pemuda yang sangat introvert,” kata Franz Beckenbauer. “Tapi tidak ada yang bisa meramalkan bahwa situasinya akan berubah menjadi masalah psikologis,” katanya lagi.

Pada pertengahan 2004 hingga 2006, kau menunjukkan kondisi yang semakin membaik secara mental. Masalah depresi sepertinya sudah menghilang. Seiring dengan itu, harapan publik juga sudah beralih. Dari yang dulu berharap kau menjadi penyelamat Jerman, menjadi hanya berharap agar kau bebas sepenuhnya dari cedera dan itu sepertinya terkabulkan. Kau hampir tak pernah lagi mengalami cedera. Namun, intensitas operasi yang terlalu sering membuat kondisi fisik tak sebaik dahulu. Tiap kali diturunkan di sayap kanan, kau amat jarang melakukan sprin, juga amat jarang berduel dengan lawan. Kau mengatakan bahwa saat itu kau mulai kehilangan kepercayaan pada sepasang kaki yang kau miliki. Kau tak ingin mengambil risiko, dan karena itulah kau selalu bermain aman.


Kau sempat berkeinginan bermain di tengah karena kondisi yang kau alami tersebut. Apalagi saat itu Ballack baru saja pindah ke Chelsea –ada posisi lowong di lini tengah. Namun, pada akhirnya kau tetap berada di sisi kanan, dengan peran sebagai ‘tukang crossing’ yang tak banyak berlari. Walau demikian, kau masih mampu tampil baik di sana, meski memang tak optimal dan tak begitu sering. Laga melawan Hamburg SV pada pengujung 2006 adalah salah satu buktinya.

Saat itu Bayern sedang tertinggal 0-1 lewat gol penalti Rafael Van der Vaart tatkala kau masuk sebagai pengganti pada menit ke-46. Seketika saja, kau memberi banyak perubahan. Bayern yang di babak pertama terlihat pasif langsung tampil menekan dan agresif semenjak kau masuk. Di sisi kanan, kau berulang kali berada pada posisi bebas untuk melepaskan crossing.

Pada menit ke-56, Bayern akhirnya bisa menyamakan kedudukan. Kau punya peran penting di sini. Setelah mengecoh seorang pemain Hamburg di sisi kanan, kau melepaskan umpan trobosan yang membelah pertahanan Hamburg. Umpan itu mengarah tepat ke depan Roy Makaay yang lolos dari jebakan offside. Makaay, sementara itu, dengan gampang meneruskan bola ke arah gawang.


Kau kembali mensutradarai gol kedua Bayern yang kali ini dicetak Claudio Pizzaro. Dan, lagi-lagi, ini bermula dari sisi kanan, posisi yang dulu sempat ingin kau tinggalkan. Setelahnya, kau masih berusaha menciptakan beberapa peluang, namun tak satu pun berbuah gol. Skor pun tetap 2-1 untuk keunggulan Bayern atas Hamburg dan ini bertahan hingga laga usai.



Apa yang kau tunjukkan pada laga melawan Hamburg itu kemudian membuat orang-orang kembali berharap banyak. Apalagi kau berada di usia yang masih sangat bisa berkembang: 27 tahun. Namun, tiba-tiba saja sekitar satu bulan kemudian, tepatnya pada Januari 2007, kau menyatakan berhenti total dari sepakbola.

“Semua kesenangan dan kegembiraan telah hilang dari permainanku. Aku tidak ingin penyiksaan ini lagi. Pada akhirnya aku merasa kosong,” kau berujar. “Aku sudah tua dan aku lelah. Aku melangkah sejauh yang kaki ini bisa menopang, dan (mulai sekarang) aku merasa tidak bisa melangkah lebih jauh lagi.”

No comments:

Post a Comment

PARTAI HIDUP DAN MATI BAGAI NERAKA JAHANAM DI WANDA METROPOLITANO

BolaBoli - Atletico Madrid akan menjamu Juventus di Wanda Metropolitano pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions 2018/19, Kamis (22/2...